Sudaryono B. Eng., M.M, MBA

Ketua DPD Gerindra Jateng

Chairman Traditional Market Traders Association

Enterpreneur

Military Background

Politician

Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA

Ketua DPD Gerindra Jateng

Chairman Traditional Market Traders Association

Enterpreneur

Military Background

Politician

Sudaryono akan naikkan UMK Jateng dan tetap genjot pertumbuhahan investasi di Jawa Tengah

Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah, Sudaryono menyatakan kesepakatannya bahwa UMK di Jawa Tengah harus dinaikkan.

Dia turut prihatin masih rendahnya UMK sejumlah kota di Jawa Tengah dibandingkan daerah lain seperti Jawa Barat dan Jawa Timur.

Namun, di sisi lain, Sudaryono mengatakan ada hal penting yang harus diketahui banyak orang, bahwasanya UMK yang kompetitif membuat pengusaha mikir-mikir untuk memindahkan pabrik ke daerah lain.

“Sekarang aja kan sudah mulai beberapa (pabrik) garmen pindah ke Klaten pindah ke Boyolali dari Karawang dari Bekasi, ya karena memang UMK-nya tuh tinggi,” kata alumnus Taruna Nusantara itu saat diundang ke Podcast Tribun Jateng belum lama ini.

Sudaryono menambahkan sebenarnya ada dua sisi pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama, menaikkan pendapatan/kesejahteraan rakyat atau memberikan subsidi untuk kebutuhan sehari-hari.

“Orang kerja gajinya cukup itu penting. Cukup itu artinya gajinya cukup untuk kebutuhan dia. Untuk pendidikannya, untuk makannya, untuk bensinnya, untuk tempat tinggalnya seterusnya,” urainya.

Namun, Sudaryono melanjutkan jika UMK ditinggikan tanpa mendatangkan industri lalu siapa yang mau bayar? Mendatangkan investor itu juga penting bagi Sudaryono.

Lalu bagaimana yang bisa dilakukan? Menurut Sudaryono, banyak orang mendambakan bisa hidup berkecukupan. Pada saat butuh masalah kesehatan misalnya, BPJS sudah tercover. Lalu pada saat rakyat butuh pangan, nanti ada subsidi dan ada bantuan pangan dalam bentuk nontunai.

“Sehingga beban hidup warga termasuk anak sekolahnya itu dibuat tidak menjadi beban, gaji yang mungkin dianggap tidak tinggi tadi masih dirasa cukup sambil pelan-pelan industrinya dimasukkan. Setelah dimasukkan, industri sudah tumbuh baru pelan-pelan kita naikkan UMK-nya. Jadi kita gak asal bandingkan dengan daerah lain soal UMK,” jelas Sudaryono.

Sudaryono mengakui bahwa Jawa Barat dan Jawa Timur sudah memimpin di bagian sektor industri real, bukan UMKM.

“Karena real sektor itu juga salah satu indikator kemajuan suatu daerah. Maksudnya gini, kalau orang makin banyak yang jualan sektor informal, Mohon maaf, saya bukan mau merendahkan atau apa bukan. Tapi kalau kita makin banyak kaki lima itu artinya pemerintah enggak berhasil menciptakan lapangan pekerjaan,” imbuhnya.

Menurutnya, menciptakan lapangan pekerjaan itu penting. Hilirisasi yang digagas oleh Presiden Jokowi itu salah satunya bisa diwujudkan dengan pendirian pabrik-pabrik di Jawa Tengah.

“Kalau Pak Prabowo jadi presiden, saya bisalah minta beberapa pabrik dibangun di Jawa Tengah,” tegas bakal calon Gubernur Jawa Tengah itu.

Mendatangkan industri yang besar, lanjut Sudaryono, lebih banyak menguntungkan Jawa Tengah. Beberapa keuntungannya adalah serapan lapangan kerja, pajaknya, suplai air listrik. Sehingga roda perekonomian Jawa Tengah bisa berputar dengan munculnya sektor-sektor lain yang menjadi triggernya.

“Seorang kepala daerah itu juga mesti punya konektivitas yang kuat terhadap pemerintah pusat syukur-syukur bisa nyariin investor dari mana-mana, baik investor dalam negeri maupun dari luar negeri. Program hilirisasi itu salah satu kunci memakmurkan bangsa ini,” beber mantan ajudan pribadi Prabowo Subianto itu.

Sebagai informasi, Sudaryono adalah salah satu orang yang siap maju Pilgub Jateng 2024.