Sudaryono B. Eng., M.M, MBA

Ketua DPD Gerindra Jateng

Chairman Traditional Market Traders Association

Enterpreneur

Military Background

Politician

Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA
Sudaryono B. Eng., M.M, MBA

Ketua DPD Gerindra Jateng

Chairman Traditional Market Traders Association

Enterpreneur

Military Background

Politician

BLOG MAS DAR

Ratusan Petani Karanganyar Kesal 2 Tahun Kartu Tani Tak Bisa Dipakai

November 24, 2023 artikel
Ratusan Petani Karanganyar Kesal 2 Tahun Kartu Tani Tak Bisa Dipakai

Ratusan petani di Desa Sedayu, Kecamatan Jumantono, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menggeruduk balai desa setempat pada Jumat (24/11/2023).

Kedatangan para petani ini buntut kekesalan mereka, lantaran Kartu Tani tak bisa digunakan menebus pupuk bersubsidi. Peristiwa ini sempat viral di media sosial.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, petani datang secara bergelombang ke Balai Desa Sedayu sejak pukul 08.00 WIB. Mereka datang dengan membawa Kartu Tani serta sejumlah dokumen pendukung seperti kartu tanda penduduk (KTP), Kartu Keluarga, dan buku rekening BRI.

Petani mencocokkan data yang tertera kepada pegawai Bank BRI. Beberapa petani tampak protes ke pegawai BRI dan agen penyalur karena Kartu Tani tak bisa digunakan.

Petani asal Klengkingan, Sedayu, Wagiman, 63, meminta kejelasan karena Kartu Tani miliknya tak bisa digunakan sejak setahun terakhir. Padahal dua tahun sebelumnya Kartu Tani tersebut bisa digunakan. Dia telah beberapa kali melaporkan masalah Kartu Tani itu, namun selalu dipingpong.

“Saya sampai bingung tidak bisa menggunakan Kartu Tani untuk menebus pupuk bersubsidi. Sudah setahun ini Kartu Tani enggak bisa dipakai,” kata dia.

Kasus ini ternyata tidak hanya menimpa Wagiman. Ada lebih dari 200 petani yang juga jumlah masalah serupa. Untuk menebus pupuk bersubsidi, Wagiman harus meminjam Kartu Tani milik petani lain. Sering juga ia terpaksa membeli pupuk nonsubsidi.

“Mau enggak mau beli pupuk yang enggak subsidi. Harganya dua kali lipat daripada pupuk yang subsidi,” kata dia.

Petani Sedayu lain Mitro Suwarno, 72, menyatakan hal serupa. “Saya tanyakan ke petugas dan dicek tadi ternyata kartunya aktif. Tapi kenapa dari dua tahun kemarin tidak aktif?” tanyanya aneh.

Baginya kini yang terpenting Kartu Tani nya telah aktif dan bisa digunakan untuk menebus pupuk bersubsidi. Kartu tani ini akan digunakan untuk persiapan memasuki musim tanam I.

Butuh Solusi

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sedayu, Sularno, mengatakan terdapat 200 pemegang Kartu Tani yang mengalami masalah. Permasalahan Kartu Tani ini terjadi saat petani tak bisa menebus pupuk bersubsidi. Padahal petani memiliki Kartu Tani dan terdata baik di Dinas Pertanian maupun BRI selalu penerima pupuk bersubsidi.

“Sebenarnya kami sudah protes berulang kali. Tapi selalu jawabannya di lempar ke sana ke sini. Harapannya hari ini bisa ada solusi,” kata dia.

Selama Kartu Tani Tak Bisa dipakai, petani terpaksa membeli pupuk non subsidi yang harganya dua kali lipat daripada pupuk bersubsidi. Untuk pupuk jenis urea misalnya, harga subsidi ditebus petani hanya Rp135.000 per sak. Sedangkan harga non subsidi mencapai Rp360.000 degan ukuran yang sama.

Begitu pula pupuk jenis Phonska harga subsidi dijual Rp165.000 per sak. Sedangkan harga non subsidi untuk Phonska plus bisa mencapai Rp600.000 per sak.

“Petani kan kasihan harus mengeluarkan biaya mahal membeli pupuk. Kami hanya minta solusinya,” katanya.

Kades Sedayu, Sunarso mengaku baru mengetahui adanya ratusan Kartu Tani warganya yang bermasalah. “Mudah-mudahan hari ini selesai masalahnya. Ada penyelesaian untuk kartu tani yang bermasalah, hadir di sini dari BRI, agen, distributor dan Dinas Pertanian,” katanya.

Admin Kartu Tani Kabupaten Karanganyar, Mujahid Hasyim Ashari, menargetkan problem penyaluran pupuk subsidi bersistem kartu tani di Desa Sedayu selesai bulan ini. Hal ini lantaran mendekati masa tanam pertama (MT) I yang biasanya berjalan pada bulan November-Desember.

“Jadi setelah mengurai persoalan di lapangan, masalah terletak pada Kartu Tani dan buku rekening BRI yang sebagian belum tersalurkan ke petani,” kata dia.

Selain itu, dia menduga masih banyak petani kurang paham memakai Kartu Tani, dimana terdapat kode khusus yang harus dimasukkan ke mesin EDC.

“Kode pupuk tanaman pangan dengan hortikultura beda. Kalau masukkan salah enggak bisa muncul. Petani mungkin belum paham,” katanya.

Write a comment